Rabu, Januari 20, 2010

Sajak-sajak Emha Ainun Najib, 1


ANTARA TIGA KOTA

Oleh :
Emha Ainun Najib



            di yogya aku lelap tertidur
            angin di sisiku mendengkur
            seluruh kota pun bagai dalam kubur
            pohon-pohon semua mengantuk
            di sini kamu harus belajar berlatih
            tetap hidup sambil mengantuk

            kemanakah harus kuhadapkan muka
            agar seimbang antara tidur dan jaga ?

            Jakarta menghardik nasibku
            melecut menghantam pundakku
            tiada ruang bagi diamku
            matahari memelototiku
            bising suaranya mencampakkanku
            jatuh bergelut debu

            kemanakah harus juhadapkan muka
            agar seimbang antara tidur dan jaga

            surabaya seperti ditengahnya
            tak tidur seperti kerbau tua
            tak juga membelalakkan mata
            tetapi di sana ada kasihku
            yang hilang kembangnya
            jika aku mendekatinya

            kemanakah haru kuhadapkan muka
            agar seimbang antara tidur dan jaga ?
            
            

            Antologi Puisi XIV Penyair Yogya, MALIOBORO,
            1997







BEGITU ENGKAU BERSUJUD
Oleh :
Emha Ainun Najib


 Begitu engakau bersujud, terbangunlah ruang
  yang kau tempati itu menjadi sebuah masjid
 Setiap kali engkau bersujud, setiap kali

  pula telah engkau dirikan masjid
 Wahai, betapa menakjubkan, berapa ribu masjid
  telah kau bengun selama hidupmu?
 Tak terbilang jumlahnya, menara masjidmu
  meninggi, menembus langit, memasuki
  alam makrifat

 Setiap gedung, rumah, bilik atau tanah, seketika
  bernama masjid, begitu engkau tempati untuk bersujud
 Setiap lembar rupiah yang kau sodorkan kepada
  ridha Tuhan, menjelma jadi sajadah kemuliaan
 Setiap butir beras yang kau tanak dan kau tuangkan
  ke piring ke-ilahi-an, menjadi se-rakaat sembahyang
 Dan setiap tetes air yang kau taburkan untuk
  cinta kasih ke-Tuhan-an, lahir menjadi kumandang suara
  adzan

 Kalau engkau bawa badanmu bersujud, engkaulah masjid
 Kalau engkau bawa matamu memandang yang dipandang
  Allah, engkaulah kiblat
 Kalau engkau pandang telingamu mendengar yang
  didengar Allah, engkaulah tilawah suci
 Dan kalau derakkan hatimu mencintai yang dicintai
  Allah, engkaulah ayatullah

 Ilmu pengetahuan bersujud, pekerjaanmu bersujud,
  karirmu bersujud, rumah tanggamu bersujud, sepi
  dan ramaimu bersujud, duka deritamu bersujud
  menjadilah engkau masjid


          1987









 


DARI BENTANGAN LANGIT
Oleh :
Emha Ainun Najib


    Dari bentangan langit yang semu
    Ia, kemarau itu, datang kepadamu
    Tumbuh perlahan. Berhembus amat panjang
    Menyapu lautan. Mengekal tanah berbongkahan
    menyapu hutan !
    Mengekal tanah berbongkahan !
    datang kepadamu, Ia, kemarau itu
    dari Tuhan, yang senantia diam
    dari tangan-Nya. Dari Tangan yang dingin dan tak menyapa
    yang senyap. Yang tak menoleh barang sekejap.
    

            Antologi Puisi XIV Penyair Yogya, MALIOBORO,
            1997







DITANYAKAN KEPADANYA
Oleh :
Emha Ainun Najib


 Ditanyakan kepadanya siapakah pencuri
 Jawabnya: ialah pisang yang berbuah mangga
 Tak demikian Allah menata
 Maka berdusta ia

 Ditanyakan kepadanya siapakah penumpuk harta
 Jawabnya: ialah matahari yang tak bercahaya
 Tak demikian sunnatullah  berkata
 Maka cerdusta ia

 Ditanyakan kepadanya siapakah pemalas
 Jawabnya: bumi yang memperlambat waktu edarnya
 Menjadi kacaulah sistem alam semesta
 Maka berdusta ia

 Ditanyakan kepadanya sapakah penindas
 Jawabnya: ialah gunung berapi masuk kota
 Dilanggarnya tradisi alam dan manusia
 Maka berdusta ia

 Ditanyakan kepadanya siapa pemanja kebebasan
 Ialah burung terbang tinggi menuju matahari
 Burung Allah tak sedia bunuh diri
 Maka berdusta ia

 Ditanyakn kepadanya siapa orang lalai
 Ialah siang yang tak bergilir ke malam hari
 Sedangkan Allah sedemikian rupa mengelola
 Maka berdusta ia

 Ditanyakan kepadanya siapa orang ingkar
 Ialah air yang mengalir ke angkasa
 Padahal telah ditetapkan hukum alam benda
 Maka berdusta ia

 Kemudian siapakah penguasa yang tak memimpin
 Ialah benalu raksasa yang memenuhi ladang
 Orang wajib menebangnya
 Agar tak berdusta ia

 Kemudian siapakah orang lemah perjuangan
 Ialah api yang tak membakar keringnya dedaunan
 Orang harus menggertak jiwanya
 Agar tak berdusta ia
 Kemudian siapakah pedagang penyihir
 Ialah kijang kencana berlari di atas air
 Orang harus meninggalkannya
 Agar tak berdusta ia

 Adapun siapakah budak kepentingan pribadi
 Ialah babi yang meminum air kencingnya sendiri
 Orang harus melemparkan batu ke tengkuknya
 Agar tak berdusta ia

 Dan akhirnya siapakah orang tak paham cinta
 Ialah burung yang tertidur di kubangan kerbau
 Nyanyikan puisi di telinganya
 Agar tak berdusta ia


         1988









 

IKRAR
Oleh :
Emha Ainun Najib



        Di dalam sinar-Mu
        Segala soal dan wajah dunia
        Tak menyebabkan apa-apa
        Aku sendirilah yang menggerakkan laku
        Atas nama-Mu

        Kuambil siakp, total dan tuntas
        maka getaranku
        Adalah getaran-Mu
        lenyap segala dimensi
        baik dan buruk, kuat dan lemah
        Keutuhan yang ada
        Terpelihara dalam pasrah dan setia

        Menangis dalam tertawa
        Bersedih dalam gembira
        Atau sebaliknya
        tak ada kekaguman, kebanggaan, segala belenggu
        Mulus dalam nilai satu

        Kesadaran yang lebih tinggi
        Mengatasi pikiran dan emosi
        menetaplah, berbahagialah
        Demi para tetangga
        tetapi di dalam kamu kosong
        Ialah wujud yang tak terucapkan, tak tertuliskan

        Kugenggam kamu
        Kau genggam aku
        Jangan sentuh apapun
        Yang menyebabkan noda
        Untuk tidak melepaskan, menggenggam lainnya
        Berangkat ulang jengkal pertama
        
        

            Antologi Puisi XIV Penyair Yogya, MALIOBORO,
            1997



KETIKA ENGKAU BERSEMBAHYANG
Oleh :
Emha Ainun Najib



 Ketika engkau bersembahyang
 Oleh takbirmu pintu langit terkuakkan
 Partikel udara dan ruang hampa bergetar
 Bersama-sama mengucapkan allahu akbar

 Bacaan Al-Fatihah dan surah
 Membuat kegelapan terbuka matanya
 Setiap doa dan pernyataan pasrah
 Membentangkan jembatan cahaya

 Tegak tubuh alifmu mengakar ke pusat bumi
 Ruku' lam badanmu memandangi asal-usul diri
 Kemudian mim sujudmu menangis
 Di dalam cinta Allah hati gerimis

 Sujud adalah satu-satunya hakekat hidup
 Karena perjalanan hanya untuk tua dan redup
 Ilmu dan peradaban takkan sampai
 Kepada asal mula setiap jiwa kembali

 Maka sembahyang adalah kehidupan ini sendiri
 Pergi sejauh-jauhnya agar sampai kembali
 Badan di peras jiwa dipompa tak terkira-kira
 Kalau diri pecah terbelah, sujud mengutuhkannya

 Sembahyang di atas sajadah cahaya
 Melangkah perlahan-lahan ke rumah rahasia
 Rumah yang tak ada ruang tak ada waktunya
 Yang tak bisa dikisahkan kepada siapapun

 Oleh-olehmu dari sembahyang adalah sinar wajah
 Pancaran yang tak terumuskan oleh ilmu fisika
 Hatimu sabar mulia, kaki seteguh batu karang
 Dadamu mencakrawala, seluas 'arasy sembilan puluh sembilan



1987










KITA MASUKI PASAR RIBA
Oleh :
Emha Ainun Najib


 Kita pasar r iba
 Medan perang keserakahan
 Seperti  ikan dalam air tenggelam

 Tak bisa ambil jarak
 Tak tahu langit
 Ke kiri dosa ke kanan dusta

 Bernapas air
 Makan minum air
 Darah riba mengalir

 Kita masuki pasar riba
 Menjual diri dan Tuhan
 Untuk membeli hidup yang picisan

 Telanjur jadi uang recehan
 Dari putaran riba politik dan ekonomi
   Sistem yang membunuh sebelum mati

   Siapakah kita ?
   Wajah  tak menentu jenisnya
   Tiap saat berganti nama

   Tegantung kepentingannya apa
   Tergantung rugi atu laba
   Kita pilih kepada siapa tertawa

       1987

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar